Solar Nusantara Logo

Estimasi CAPEX PLTS 100 kWp untuk Pabrik Kelapa Sawit

• 7 menit baca

Berapa sebenarnya CAPEX PLTS 100 kWp pabrik kelapa sawit yang perlu disiapkan? Untuk kapasitas 100 kWp, rentang investasi yang realistis di Indonesia saat ini adalah Rp 900 juta sampai Rp 1,3 miliar. Angka itu diturunkan dari patokan CAPEX PLTS 1 MWp di Indonesia yang berada di kisaran Rp 9–13 miliar pada 2024–2025, dengan penskalaan linear sebagai asumsi indikatif. Bagi pabrik kelapa sawit, kapasitas sebesar ini umumnya diarahkan untuk menutup beban siang hari seperti penerangan, pompa, dan motor berdaya kecil.

Perlu dicatat, sejak Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 berlaku, pemasangan PLTS atap tidak lagi dibatasi 100% dari daya terpasang pelanggan PLN. Kapasitas yang boleh dipasang kini tunduk pada kuota yang tersedia dari PLN. Karena itu, kelayakan teknis 100 kWp di atap pabrik Anda sangat bergantung pada ketersediaan kuota di wilayah kerja PLN setempat.

Rincian CAPEX PLTS 100 kWp Pabrik Kelapa Sawit per Komponen

Struktur biaya PLTS didominasi oleh modul surya. Pada sistem 1 MWp, modul menyumbang sekitar 40% dari total CAPEX. Bila rasio tersebut dipertahankan pada skala 100 kWp, komposisi indikatifnya menjadi seperti tabel berikut.

KomponenEstimasi porsiRentang biaya untuk 100 kWp
Modul surya±40%Rp 360–520 juta
Inverter, struktur, kabel, proteksi, dan pekerjaan sipil±60%Rp 540–780 juta
Total CAPEX100%Rp 900 juta – Rp 1,3 miliar

Porsi 60% di luar modul adalah asumsi indikatif, bukan angka penawaran. Angka final sangat ditentukan hasil survei lokasi, merek inverter, jenis dan kemiringan struktur atap, serta panjang jalur kabel DC dan AC.

Untuk proyek yang mengejar nilai TKDN, SonusHUB menargetkan material kelistrikan dengan TKDN minimal 40%. Pemilihan panel surya ber-TKDN dapat mengubah komposisi biaya, terutama pada sisi modul dan inverter.

Yang Tidak Termasuk dalam Estimasi CAPEX

Beberapa pos sering diasumsikan sudah masuk ke dalam CAPEX, padahal sebaiknya dipisahkan sejak awal. Perkuatan atap, penambahan kapasitas trafo, dan sistem monitoring tambahan umumnya dihitung sebagai pekerjaan terpisah. Demikian pula biaya pemeliharaan tahunan yang masuk kategori OPEX, bukan investasi awal.

Hal lain yang perlu ditegaskan adalah keberadaan penyimpanan energi. Angka pada tabel di atas mengasumsikan sistem tanpa baterai. Jika pabrik memerlukan pasokan malam hari atau cadangan untuk beban kritis, penambahan sistem baterai akan menaikkan CAPEX secara signifikan dan sebaiknya dianggarkan sebagai paket tersendiri.

Faktor Teknis yang Menggeser Angka CAPEX

Beberapa variabel teknis membuat harga per kWp berbeda antar pabrik, bahkan untuk kapasitas yang sama.

  • Kondisi atap dan struktur: atap metal yang masih kuat dapat langsung dipasangi mounting, sedangkan atap yang butuh perkuatan menambah pekerjaan sipil.
  • Jarak dan ukuran kabel: jalur DC maupun AC yang panjang menuntut penampang kabel lebih besar agar rugi daya tetap rendah.
  • Sudut pemasangan dan bayangan: kemiringan yang tidak optimal serta shading dari cerobong, tangki, atau pohon menurunkan produksi sehingga jumlah modul perlu ditambah.
  • Kualitas modul dan inverter: komponen ber-efisiensi lebih tinggi mengurangi jumlah modul dan luas area yang dibutuhkan.
  • Akses lokasi: pabrik di dalam kebun dengan jalan terbatas menaikkan biaya mobilisasi alat dan material.

Efisiensi sistem PLTS dihitung sebagai (energi listrik yang dihasilkan / energi surya yang diterima panel) x 100%. Contoh sederhananya, 150 Wh keluaran dari 1.000 Wh masukan berarti efisiensi 15%. Faktor yang mempengaruhinya meliputi kualitas modul, panjang dan ukuran kabel inverter, sudut pemasangan, serta bayangan.

Ada pula pos biaya yang sering luput dari hitungan awal. Misalnya penyesuaian kubikel dan sistem proteksi interkoneksi ke jaringan PLN, pengurusan izin, serta pengujian dan commissioning. Sebagai asumsi perencanaan, sisipkan cadangan anggaran sekitar 5–10% dari nilai kontrak untuk pos-pos tersebut.

OPEX, Produksi Energi, dan Estimasi Payback

OPEX tahunan berskala linear dengan kapasitas. Dari contoh nyata sistem 1 MWp dengan CAPEX Rp 11 miliar dan OPEX Rp 220 juta per tahun, sistem 100 kWp setara sekitar Rp 22 juta per tahun. Pos biaya ini mencakup pembersihan modul, inspeksi kelistrikan, dan pemeliharaan inverter.

Untuk sisi produksi, gunakan asumsi produksi spesifik 1.200–1.300 kWh per kWp per tahun. Dengan kapasitas 100 kWp, energi yang dihasilkan berada di kisaran 120.000–130.000 kWh per tahun. Bila tarif listrik yang digantikan diasumsikan Rp 1.400 per kWh, nilai penghematannya sekitar Rp 168–182 juta per tahun.

Dari angka tersebut, payback sederhana jatuh di kisaran 5–8 tahun. CAPEX Rp 900 juta dengan penghematan tertinggi menghasilkan payback tercepat, sedangkan CAPEX Rp 1,3 miliar dengan penghematan terendah berada di ujung paling lama. Perhitungan ini belum memasukkan kenaikan tarif listrik, degradasi modul, dan biaya penggantian inverter pada tahun ke-10 hingga ke-15.

Untuk pelaporan keberlanjutan, 120.000–130.000 kWh per tahun setara pengurangan emisi sekitar 104–113 ton CO2 per tahun. Angka ini memakai faktor emisi rata-rata grid listrik Indonesia sekitar 0,87 kg CO2 per kWh sebagai perkiraan.

Skema Pembiayaan: BOO, BOT, atau Kepemilikan Sendiri

Skema pengadaan menentukan siapa yang menanggung CAPEX di muka. Pada skema BOO (Build Own Operate), aset PLTS tetap milik solar developer seterusnya, sehingga harga jual listriknya cenderung paling murah karena developer memegang aset jangka panjang. Pada skema BOT (Build Operate Transfer), aset menjadi milik pabrik setelah masa kontrak berakhir.

Perbedaan skema ini berpengaruh langsung pada arus kas. Pemilik sendiri mengeluarkan dana besar di awal, tetapi seluruh penghematan dan depresiasi aset masuk ke pembukuan pabrik. BOO dan BOT menekan kebutuhan modal awal, namun penghematan bersih per tahun biasanya lebih kecil setelah memperhitungkan pembayaran jasa.

Jika pabrik ingin mencatat aset dan menikmati penghematan penuh sejak hari pertama, kepemilikan sendiri melalui layanan EPC PLTS untuk segmen komersial dan industri adalah jalur paling langsung. Untuk pabrik dengan beberapa titik konsumsi, layanan manajemen energi membantu memetakan profil beban sebelum kapasitas dikunci.

Rentang Investasi dan Faktor yang Mengubahnya

Secara ringkas, CAPEX PLTS 100 kWp pabrik kelapa sawit berada di rentang Rp 900 juta hingga Rp 1,3 miliar untuk skema kepemilikan sendiri, dengan OPEX sekitar Rp 22 juta per tahun. Angka itu bergerak naik bila atap butuh perkuatan, jalur kabel panjang, atau modul ber-TKDN dipilih dengan harga lebih tinggi. Angka bergerak turun bila kuota PLN tersedia penuh, lokasi bebas bayangan, dan skema BOO dipilih sehingga CAPEX di muka tidak dibebankan ke pabrik. Langkah paling aman adalah meminta survei lokasi dan penawaran resmi sebelum mengunci anggaran.


Solar Nusantara berfokus pada pengembangan solusi energi surya untuk sektor komersial dan industri. Kami membantu perusahaan merancang sistem photovoltaic yang efisien dan berkelanjutan.

Untuk implementasi proyek, Anda dapat mengunjungi Sonus EPC, yang menyediakan layanan EPC (Engineering, Procurement, and Construction) untuk pemasangan sistem panel surya. Sementara itu, SonusHUB hadir sebagai platform B2B yang menyediakan berbagai material kelistrikan dan komponen energi terbarukan bagi kebutuhan proyek dan instalasi profesional.